Esensi Kemerdekaan : Pelaut Kapal Pesiar

merdeka1

Sebelumnya saya ucapkan dirgahayu kemerdekaan negara kita tercinta Republik Indonesia. Buat rekan-rekan pelaut kapal pesiar yang merayakannya di kapal, mungkin ada perasaan terharu atau cuek bebek terhadap perayaan Kemerdekaan Indonesia…apapun itu, setidaknya kita perlu merenung terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Apakah sebagai pelaut kapal pesiar kita sudah benar-benar merdeka dan me-merdekakan hak orang lain  ?….

Bangsa Indonesia sudah 70 tahun merdeka, namun sisa-sisa penjajahan terutama warisan penjajahan kaum kompeni  masih melekat dalam diri kita, politik adu domba, saling mencibir, iri kalau ada teman maju, saling membully dan suku-sukuan di kapal pesiar  dan segala perilaku buruk yang membuat kru bangsa Indonesia semakin dinilai minus  oleh sesama kru dari negara lain.

Sebagai sesama orang Indonesia dan sama-sama menjadi kru alias ” kuli berdasi ” di kapal pesiar, hendaklah kita saling mendukung dan melindungi. Tidak perlu memilih-milih teman dari suku A atau suku B, tidak perlu maunya hanya duduk makan di crew mess dengan para kru sesama sukunya , merendahkan kualitas kerja suku tertentu, dll. Memilih teman se negara asalkan dianya baik dan profesional bekerja itu sudah cukup. Warisan politik kaum kompeni yang menjajah kita 350 tahun lamanya ternyata masih saja ada dalam sifat-sifat dan perilaku kita.

…….KITA BELUM MERDEKA KAWAN !!!!…..

Ternyata dalam jiwa diri kita masih saling menindas dan tidak saling mendukung. Kru kapal pesiar bangsa lain, mereka sangat solid . Mereka tahu kemampuan kru bangsa Indonesia yang giat bekerja dan murah senyum. Mereka kompak bekerja demi image dan prestasi kerja yang ujung-ujungnya mencoba mengurangi atau bahkan menghilangkan dominasi kru kapal pesiar dari Indonesia. Mereka mengejek kita dengan sebutan negara teroris, negara miskin, negara tanpa aturan , dll. di kapal pesiar, para kru dari negara lain juga menilai kinerja kita letoy, lamban, kurang fasih berbahasa Inggris, dll.  Kita harus hilangkan perasaan beda suku dan agama untuk bersatu padu bekerja profesional di kapal pesiar agar image kru Indonesia yang pekerja keras , tangguh , dll bisa dipertahankan.Sebagaimana kita semua tahu, sejak 4 tahun terakhir ini, perusahaan kapal pesiar mulai mempekerjakan kru dari negara-negara ” kelas ke-3 ” ( negara yang lebih miskin dari Indonesia ) . Perusahaan kapal pesiar pastinya mencoba menekan biaya  untuk banyak hal termasuk juga anggaran penggajian kru. Negara “ kelas ke-3 ” ini bersedia digaji lebih rendah dari gaji untuk kru Indonesia asalkan mereka dapat dipekerjakan di kapal .

Mengingat jauh ke belakang pada 20 – 30 tahun lalu, kru kapal pesiar hanya didominasi para pelayan dari negara Inggris, Amerika , Italia….Negara eropa timur juga mulai bekerja di kapal pesiar ( Bulgaria, Romania , Polandia , dll  )lalu mulai masuk bangsa India, Honduras untuk  kelas pekerjaan kasar seperti ( dish washer dan garbage man ). lalu masuklah negara Filipina ( yang mereka merasa lebih baik dari Indonesia ) . Dan Bangsa Indonesia mulai bekerja di kapal pesiar sejak akhir tahun 1970an. Hingga sekarang para kru bule ( kulit putih ) sudah sangat sedikit berkarier di kapal pesiar, karena mereka tahu perusahaan kapal pesiar sudah tidak mampu membayar mereka lagi dengan kurs mata uang Euro atau Poundsterling. Sekarang sudah mulai masuk kru dari negara Vietnam , Mnyanmar, Madagaskar, Korea Selatan bagian pedalaman, dan China yang mau digaji rendah di kapal pesiar. Mungkin dalam beberapa tahun lagi kita-kita para kru dari Indonesia sudah tidak mau bekerja lagi di kapal pesiar jika perekonomian negara kita membaik dan kurs Dollar menurun.

Terkadang kita merasa “ merdeka ” dengan uang banyak yang kita miliki dari hasil kerja kapal pesiar. Semakin kurs Dollar US meningkat, semakin ” merdeka ” lah kita di Indonesia …Apalagi saat ini pertukaran Dollar mencapai 13 ribu rupiah lebih per 1 dollarnya. Inilah yang disebut kemerdekaan di atas penderitaan orang lain. Semakin nilai tukar dollar naik, semakin senanglah kita para pelaut kapal pesiar. Tanpa disadari dengan naiknya dollar sebenarnya adalah menurunnya  perekonomian negara kita. Yaahh..inilah dilematis yang kita hadapi. di satu sisi bersyukur kalau nilai pertukaran Dollar naik karena akan menambah pundi-pundi keuangan kita, namun dengan naiknya harga Dollar,  akan membuat hidup seluruh penduduk Indonesia semakin terpuruk.

Bagaimanapun juga kita perlu bangga dan bersyukur menjadi kru kapal pesiar Indonesia, di tengah situasi perekonomian negara yang kurang jelas,..tapi kita masih mampu mengais keuntungan Dollar. Sebenarnya taraf kehidupan kita jauh lebih baik jika  dibanding taraf kehidupan kru kapal pesiar dari negara lain. Kerja  belum lama, baru 2 tahun sudah “ terlihat  hasil “ dari kapal pesiar. Punya tanah, beli mobil setidaknya bekas, dll..Para kru kapal pesiar dari negara lain yang kehidupan di negaranya lebih mahal, tidak sebahagia kita. Sudah bekerja di kapal pesiar beberapa tahun pun masih belum punya aset, tinggal di apartemen kecil itupun hanya menyewa. Mari kita buktikan ke bangsa lain, bahwa kru kapal pesiar dari Indonesia tetap JAUH lebih baik dari kru dari negara mana manapun. Pekerja keras, tidak mudah mengeluh, rajin, tidak suka berbuat onar, dan selalu menghormati antar sesama.

JAYALAH SELALU PELAUT KAPAL PESIAR INDONESIA..!!!!!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s